Pada hari Sabtu, 10
Januari 2026 sekitar pukul 08. 30 WIB para mahasiswa berkumpul di depan asrama
Joglo, kami berencana
melakukan kunjungan ke Unggul Farm Ngrembes.
Para mahasiswa
berangkat sekitar pukul 09.00 WIB dengan menggunakan transportasi moda truk, satu jam lamanya di
perjalanan akhirnya sampai ditempat tujuan sekitar kurang lebih pukul 10.00
WIB.
Sesampainya di sana kami
bertemu dengan pemilik Unggul Farm Ngrembes bernama Bapak Udin bersama
istri, Ibu Fitri. Setiba di tempat kami disambut dengan
baik sembari diajak langsung ke peternakan domba miliknya.
Kami pun bertanya-tanya seputar peternakan domba kepada beliau.
Berikut dialog kami:
Kami : “Berapa lama
Pak Udin memulai peternakan domba?”
Pak Udin : “Sekitar tahun
2015”
Kami : “Bagaimana
cara bapak berternak sampai sedemikian banyaknya?”
Pak Udin : “Bapak membeli
dari pasar sekitar 200 ekor domba berupa jantan & betina. Nah, biasanya domba
betina 90% itu ada yang sudah bunting.”
Kami : “Apakah Bapak
membeli domba hanya 1 jenis saja?”
Pak Udin : “Tidak, Bapak
membeli domba tidak hanya 1 jenis .Ada yang jenis domba lokal dan Jawa.”
Kami : “Bagaimana cara
membedakan jenis domba tersebut?”
Pak Udin : “Dengan melihat
bulu-bulu domba yang berbeda dan bentuk
tanduknya.”
Kami : “Berapa banyak
jumlah domba di peternakan ini Pak?”
Pak Udin : “Sekitar 500
ekor domba kurang lebihnya”
Pada momen ini, kami tercekat kaget campur kagum dengan
penjelasan Pak Udin. Tidak ingin kehilangan kesempatan, kami pun bertanya
tentang cara pemasaran beliau.
Kami : “Bagaimana Bapak
memasarkan domba-domba tersebut?”
Pak Udin : “Bapak
menjualnya ke berbagai daerah dan para pelanggan yang membutuhkan domba.”
Kami : “Biasanya berapa banyak domba yang
terjual Pak?”
Pak Udin : “Jika hari-hari biasa domba terjual
sekitar 200 ekor, tapi jika menjelang hari raya idhul adha bisa mencapai 500 –
1.000 ekor domba”
Kami : “Baik Bapak, terima kasih
atas ilmu, kesempatan,
dan pengalaman berharga ini!”
Waktu pun cepat
berlalu, setelah
berkeliling di peternakan Pak Udin. Kami bergeser mengunjungi perkebunan milik Pak Udin yang jaraknya agak jauh sekitar
15 menit.
Sesampainya disana kami dipandu oleh Ibu Fitri. Kami diajak ke
perkebunan Anggur. Dan kami izin mengajukan beberapa pertanyaan.
Kami : “Berapa lama
ibu menamam anggur di perkebunan ini”?
Ibu Fitri : “Baru
serkitar 15 bulan, kemarin sekitar bulan ke-10 atau ke-11 baru bisa panen , insyaa
Allah bulan ke-3 ini akan panen lagi.”
Kami : “Apakah jenis anggur disini sama
semua bu?”
Ibu Fitri : “Tidak di sini ada anggur hijau, merah
bahkan anggur ungu atau hitam.”
Kami :
“Bagaimana cara membedakan beberapa macam anggur tersebut, Ibu?”
Ibu Fitri : “Kita dapat
melihat anggur saat anggurnya sudah besar, dan bisa juga dari bunganya.”
Kami : “Untuk merawat tanaman anggur-anggur ini, upaya apa yang Ibu
lakukan?”
Ibu fitri : “Ibu merawatnya
dengan memberikan pupuk kimia sekitar 20% selebihnya menggunakan pupuk organik.
Dan terkadang ibu menggunakan metode stek sambung.”
Kami : “Baik Ibu. Boleh
tidak, jika kami
melihat kebun yang lainnya?”
Ibu Fitri : “Boleh, Ayok Ibu antarkan.”
Tidak jauh
dari kebun anggur, kami berjalan ke kebun lain. Ternyata kebunnya lebih luas
karena ada beberapa pohon alpukat, pohon jeruk lemon baby, jagung, jambu
kristal, sawo, bahkan kelengkeng.
Kami : “Berapa luas
tanah yang digunakan untuk perkebunan Ini bu?”
Ibu fitri : “Sekitar 1½
hektar dihitung dari depan jalan sampai yang paling belakang, ya!”
Kami : “Kenapa Ibu
memilih perkebunan atau inspirasi ini Ibu dapatkan dari mana?”
Ibu Fitri : “Karena banyaknya limbah dari peternakan kambing yang kita punya, akhirnya ibu
mendapat ide untuk menciptakan perkebunan.”
Kami : “Baik, ibu...”
Sembari mengelilingi kebun, kami melihat ada bangunan yang
besar semacam gudang di tengah perkebunan. Kami pun memberanikan diri untuk
bertanya kepada beliau.
Kami : “Kalo boleh tahu, itu gudang apa
bu?”
Ibu fitri : “Itu gudang pakan, untuk ternak
domba. Yuk, masuk!”
Kami :
“Kalo boleh tahu Ibu, pakan ini berbahan dasar apa ya, Bu?”
Ibu Fitri : “Dari limbah mie kriuk beserta bumbu,
dan dari limbah kecap, untuk proteinya kami memilih sayur seperti kangkung
kering dan jagung. Dahulu kami pernah mencoba menggunakan air tebu tapi
ternyata dia lembab akhirnya cepat basi, dan akhirnya Ibu memilih pakan kering
agar tahan lama. Bahkan sekitar 1 tahun pun tidak akan basi.”
Kami : “Apakah pakan
ini diperjual belikan bu?”
Ibu Fitri : “lya, tetapi
belum legal. Ibu hanya menjual ke orang-orang biasa membeli domba, itu pun jika orang
tersebut ingin membelinya.”
Kami : Baik Ibu,
Terima kasih banyak atas waktu, kesempatan, ilmu dan pengalaman yang luar biasa ini.”
Waktu pun berakhir, kami harus kembali ke
pondok. Pengalaman dan ilmu yang berharga bagi kami, dengan berbagai informasi yang
menarik bisa menjadi bekal
bernilai nantinya.
Penulis: Andina Assahra Prawesti










